Posted in Random thoughts, Sehari-hari

Tukang sayur keliling

image

“Sayur..”, sebuah teriakan yang sejak bangun pagi saya tunggu. Itu adalah teriakan tukang sayur keliling yang setiap hari jualan di depan rumah. Bukan hanya saya yang sudah menunggu dari tadi, tapi juga beberapa ibu-ibu tetangga saya.

Sebenarnya ada 3 orang tukang sayur keliling yang sering lewat depan rumah setiap harinya. Satu pukul 7 pagi, yang lainnya pukul 9 dan 12. Saya memilih tukang sayur keliling paling pagi, karena sekitar pukul 8 pagi saya harus sudah pergi bekerja.

Tukang sayur sering saya beli menerima pesanan lewat telpon kalau kita menginginkan lauk yang biasanya tidak dia jual sehari-hari, semacam jual sayur atau ikan online.

“Sis, anak saya mau ikan mas goreng. Besok bawakan 1 kg ikan masnya ya.”

“Boleh sis tapi agak mahal 20 ribu sekilo.”

“Ya sudah tidak apa-apa, ukuran sedang ya 1 kg dibawa besok pagi.”

“Siap sis.”

Tukang sayur keliling adalah pahlawan bagi ibu-ibu di lingkungan rumah. Walaupun kampung saya relatif dekat pasar, tapi sifat alami manusia yang pemalas menjadi peluang bisnis bagi penjual sayur keliling. Tinggal nunggu di depan rumah sayur pun tersedia di depan mata. Waktu saya tinggal di Bandung, sampai-sampai tukang kasur pun masuk gang dan menawarkan kasur sampai depan muka. Bisa dibayangkan betapa repotnya bawa-bawa kasur keliling gang belum tentu sehari pun ada yang beli.

Tidak terlalu banyak penjual yang lewat gang rumah saya karena jalan yang buntu. Pokoknya prospeknya tidak terlalu bagus lah kalau jualan lewat gang rumah saya. Tapi untunglah tukang sayur keliling masih sudi mampir dan menawarkan dagangannya.

Tukang sayur menjual dagangannya yang sudah dibungkus plastik dengan ukuran tertentu. Dari berbagai macam bumbu, sayuran, ikan, ayam, dan jajanan kecil. Tidak jelas ukurannya ada yang 1/4 kg atau 1/2 kg, pokoknya ukuran 1 plastik yang sudah jelas harganya. Tentu saja ini untuk memudahkan tukang sayur sendiri. Kalau harus bawa-bawa timbangan keliling kampung, lama dan tidak praktis, bisa dilemparin ibu-ibu sekampung karena membuat mereka menunggu. Dia keliling menggunakan motornya, cukup berpakaian sederhana dan sendal jepit. Tidak dibutuhkan modal sepatu, baju bermerk dan parfum mahal. Sangat sederhana..

Harga yang ditawarkan mengikuti rumus pembulatan mutlak untuk memudahkan berhitung. “Telur asin harganya berapa bi?”

“10 ribu tiga”.

“Saya beli 2 ya bi”.

“Boleh, harganya 7 ribu”.

Karena harganya 10 ribu 3 buah berarti satunya 3.333 rupiah dibulatkan menjadi 3.500, maka 2 telur asin harganya  7.000. Andai rumus pembulatan tidak diterapkan betapa repotnya dia berhitung perkalian dan pembagian pake desimal 3 angka di belakang koma. Ujung-ujungnya dibulatkan juga seperti kalau belanja di super market diberi kembalian permen.

Setiap saya belanja sama dia adalah saatnya saya berlatih berhitung. “Kita hitung ya belanjaannya bu guru”. Malu juga sudah dibilang bu guru tidak bisa berhitung. “13 ribu tambah 4 ribu”.

“17 ribu”. Masih gampang.

“Ditambah 23 ribu”.

Mulai agak berpikir. “40 ribu”.

“Ditambah 16 ribu 5 ratus”.

Mulai kunang-kunang. “56 ribu 5 ratus. Bi, kenapa sih gak bawa kalkulator?”.

“Jarang-jarang yang belanjaannya banyak kayak ibu, jadi ya saya santai saja berhitungnya.” Memang sih saya belanjanya palingan seminggu sekali, tapi belanjanya agak banyak. Malas adalah penyakit menahun saya.

Proses jual beli harus saling menguntungkan dengan prinsip kejujuran. Saya bukanlah orang yang suka belanja ngubek-ngubek pasar. Banyak pedagang tidak jujur bikin bete, saya juga bukan ahli menawar. Jadi ya cukup belanja yang dibutuhkan ke tempat belanja yang memang sudah saya percaya.

Walaupun tukang sayur hanyalah pedagang kecil tapi dia jujur, penuh dedikasi, dan menjadi penyelamat bagi orang-orang yang malas ke pasar seperti saya.

Selamat hari Senin😊

Advertisements

2 thoughts on “Tukang sayur keliling

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s