Posted in Random thoughts, Sehari-hari

Alumni ITB sombong? (versi alumni)

Saya terusik dengan tulisan yang sedang booming tentang kesombongan alumni ITB di sini . Sebagai alumni ITB yang belajar di ITB selama 10 tahun di sana, sepertinya wajar kalau saya memberikan pendapat saya.

Saat pendidikan sarjana adalah saat pembentukan karakter. Pendidikan setelahnya master dan doktor sudah tidak lagi berpengaruh pada karakter seseorang, terutama karakter profesional di tempat kerja.

Karakter alumni ITB

Secara jujur pada saat awal saya lulus dari ITB saya memiliki karakter yang orang katakan karakter alumni ITB. Kuat, tangguh dan (sangat) percaya diri. Saya adalah alumni bukan fakultas teknik, yang jika dibandingkan dengan karakter fakultas teknik kami lebih soft. Tapi tetap kami masih dicap demikian. Kenapa demikian?

ITB diklaim sebagai universitas terbaik di Indonesia, tentu mahasiswa yang masuk pun harus yang terbaik. Dari sejak awal inilah sudah tertanam mahasiswa ITB lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa universitas lain.

Proses pembelajaran pun turut membentuk karakter alumninya. Persaingan antar mahasiswa sangat ketat, sehingga mahasiswa banyak belajar sendiri di luar untuk mengejar standar kelulusan. Hanya untuk lulus saja susahnya luar biasa. Jadilah kebanggaan bisa mengikuti proses yang luar biasa sulit ini menjadikan kebanggaan tambahan. Plus mungkin didikan kakak tingkat yang mengajarkan demikian haha.

Setelah lulus sarjana

Setelah lulus sarjana saya bekerja sebagai pendidik. Terjadilah konflik pada saat awal-awal bekerja. Saya menuntut mahasiswa saya mengikuti standar saya yang sangat tinggi, tanpa ampun. Saya banyak mengeluh dan menuntut di tempat kerja. Karena pada saat itu saya berpikir saya yang terbaik, orang harus menghargai saya.

Tapi seiring waktu dan pergaulan, saya mulai merasa ada yang salah. Saya tidak bisa berlaku demikian. Orang hanya akan menghargai karya saya bukan omongan saya. Saya tidak bisa menyombongkan diri saya kalau tidak bisa membuktikan kemampuan saya. Dan ternyata saya melihat prestasi bukan alumni ITB banyak yang lebih baik dari saya. Jadi kenapa saya harus sombong?

Saya mulai bergaul, bekerja sama dengan teman-teman lain. Tentu dalam proses kerja sama tidak bisa lagi merasa yang paling hebat dari yang lain. Kita harus low profile dan penuh empati. Saya tidak menuntut dan banyak mengeluh lagi, orang-orang yang prestasinya lebih baik dari saya diam-diam saja. Saya tidak menuntut standard tinggi kepada mahasiswa saya seperti standar mahasiswa ITB. Secara sadar saya berubah. Saya tidak mau dicap sebagai alumni ITB yang pongah lagi heheh.

Sayanganya ada beberapa teman yang alumni ITB yang tidak bisa move on dan keukeuh mempertahankan karakter bawaannya dan memperburuk citra alumni ITB. Sulit bergaul dan merasa paling hebat.

Tapi sekali lagi hal ini tidak bisa disamaratakan, bergantung individu juga. Banyak juga alumni universitas lain bukan alumni ITB yang sombong merasa paling hebat. Jadi mohon maaf kalau ada yang tersinggung. Setiap alumni univeristas memiliki kekurangan dan kelebihan dengan karakternya masing-masing. Alangkah hebatnya alumni ITB, alumni dari universitas terbaik tetapi diiringi dengan kerendahan hati dan empati. Peace.. ✌️

Advertisements

2 thoughts on “Alumni ITB sombong? (versi alumni)

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s