Posted in Sehari-hari

Murah senyum enteng jodoh

manfaat senyum
Gambar dari Google

Pernah dengar pepatah tersebut? Anda percaya dengan pepatah tersebut? Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, ramah adalah:  baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Salah satu tanda keramahan adalah tersenyum. Dengan tersenyum kita menunjukkan perasaan senang berbicara dan bergaul dengan orang lain. Sebagai orang Sunda saya selalu diajarkan ramah dan tersenyum kepada setiap orang.

Pada waktu kecil saya harus jalan kaki sejauh 2 km pergi dan pulang ke sekolah SMP. Saya harus melewati kerumunan ibu-ibu tetangga dekat rumah yang stiap hari (catat ya, setiap hari) selalu menyapa saya.

Bade sakola Neng“, mau pergi sekolah Neng, kira-kira itulah artinya.

Muhun“, iya, sambil saya tersenyum.

Tapi lama kelamaan bosen juga disapa ibu-ibu tersebut dengan pertanyaan yang sama setiap hari. Sudah jelas saya memakai baju putih-biru seragam kebesaran anak SMP, masih ditanya juga mau pergi sekolah. Saya pun protes kepada ibu saya.

“Mah, kenapa sih ibu-ibu itu tanya-tanya terus saya mau pergi sekolah. Kan sudah jelas saya pake seragam artinya mau pergi sekolah”.

Ibu saya menjawab denga bijaksana:”Itu namanya keramahan dan sopan santun. Kamu juga harus menjawab dengan sopan. Jawab saja iya setiap mereka menyapa, kan gak susah. Bahasa itu gak usah dibeli, berikanlah bahasa dan sopan santun terbaik kepada orang lain.” Uhuk uhuk, saya masih terharu dengan jawaban ibu saya dan selalu teringat di hati dan pikiran saya sampai sekarang.

Senyum dan ramah itu perlu latihan

Pernah dengar kan sapaan ramah dari karyawan Indomaret yang selalu kita cuekin, “selamat datang di Indomaret”. Mengapa kita cuekin? Karena kita merasa sapaan dan keramahannya terasa palsu dan hanya basa basi bukan dari hati. Benar kan? Begitu juga kita bisa merasakan keramahan dan senyum palsu dari pramugari, petugas hotel atau karyawan bank. Mereka memiliki senyum dan cara berbicara yang mirip satu sama lain. Senyum artifisial bukan dari hati.

Dalam dunia bisnis, politik dan selebriti cara tersenyum ramah adalah hal penting. Orang-orang yang profesinya di bidang jasa atau marketing dilatih untuk ramah dan selalu tersenyum. Demikian juga dunia selebriti dan politikus untuk menjaga citra mereka. Saya bisa melihat senyum Kate Middelton di setiap foto memiliki bentuk senyum yang mirip.

Sebaliknya orang-orang yang pekerjaannya mengandalkan wibawa dilatih untuk tidak banyak tersenyum. Seperti polisi, tentara, hakim, jaksa dll. Kebanyakan senyum dianggap tidak serius dan bisa dilecehkan orang. Mungkin kita merasa mereka tidak ramah dan tidak bersahabat, tapi mereka dituntut untuk begitu. Jadi harap maklum kalau melihat tentara wajahnya agak sangar ya, mereka pekerjaannya perang menjaga negara.

Waktu saya kecil katanya orang Indonesia terkenal dengan keramahannya. Setelah pergi ke beberapa negara, saya merasakan memang orang Indonesia lebih ramah dibandingkan dengan warga negara lain. Orang Indonesia mau menolong, senyum dan berbicara walaupun dengan orang tidak kenal.

Ramah berbeda denga sopan. Juga menurut kamus Bahasa Indonesia, sopan adalah: beradab (tentang tingkah laku, tutur kata, pakaian dan sebagainya); tahu adat; baik budi bahasanya. Jadi orang yang tidak tahu sopan santun itu tidak perduli dengan kepentingan umum (tidak tahu adat dan tatakrama), seperti menyerobot antrian, ribut atau merokok di tempat umum dll. Jadi banyak orang Indonesia yang ramah tapi tidak tahu sopan santun. 🙂 Orang Jepang sangat sopan tapi tidak ramah. Meraka selalu serius dan jarang tersenyum. Kalaupun tersenyum hasil latihan demi kesopanan.

Beda budaya beda standard keramahan

Senyum yang tulus dari hati itu menyehatkan, bisa menurunkan stress dan tekanan darah. Orang Sunda tersenyum dalam segala situasi, enak atau tidak enak. Senang tersenyum, tidak senang juga senyum, setuju senyum, tidak setuju juga senyum, suka tersenyum, tidak suka tersenyum. Bingung kan? 😀 Orang Sunda mah orangnya memang begitu.

Setelah saya bekerja, saya harus pindah ke tempat saya tinggal sekarang. Standard keramahan di sini berbeda dengan tempat saya dibesarkan, walaupun bergantung dari kepribadian seseorang juga. Awal saya pindah ke sini saya agak stress, saya pikir semua orang marah sama saya. Apa salah saya? Mereka menyuruh makan saja sambil bentak-bentak: “Coba makan dulu, sudah lagi ngerjakan itu”. Tidak ada indikasi marah dalam konteks kalimatnya, tapi karena menggunakan nada tinggi sehingga membuat saya kehilangan selera makan. 😛

Mereka memiliki budaya dan karakter begitu, yang salah adalah saya yang tidak biasa mendengar suara dengan nada tinggi. Kalau saya bertanya mengapa orang di sini tidak ramah mereka menjawab: “Sudah pindah aja lagi kamu ke tempat asalmu, orang di sini memang begini.” Glek nelen sendal jepit, kalau orang Sunda tidak akan menjawab ketus begitu.

Senyum itu menyehatkan, lebih menyenangkan dalam pergaulan dan ibadah juga lho. Jadi tersenyum ramah yang dikombinasikan dengan sopan santun mudah-mudahan benar membuat enteng jodoh. Layak dicoba untuk yang masih single, jangan mahal-mahal senyumnya 😀

Advertisements

3 thoughts on “Murah senyum enteng jodoh

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s