Posted in Being myself, Sehari-hari

Antara aku dan air

Gambar dari Google

Hubungan saya dengan air tidak terlalu baik, terutama kalau sudah menyangkut air yang banyak, takut tenggelam. 😛 Tapi hubungan baik masih tetap terjaga jika menyangkut kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari, masih mandi dua kali sehari kok. Entahlah sepertinya ada trauma apa sewaktu kecil, pokoknya parno aja kalau sudah deket kolam apalagi laut.

Ada satu kejadian yang saya ingat. Konon menurut ibu saya, sewaktu kecil kami pernah jalan-jalan ke pantai Cipatujah. Cipatujah adalah pantai di daerah Tasikmalaya yang termasuk daerah pantai laut selatan. Pantainya sangat indah tapi sepertinya masih kalah terkenal dengan Pangandaran. 🙂 Banyak yang percaya bahwa laut pantai selatan dikuasi oleh Nyi Roro Kidul. Apa hubungan Nyi Roro Kidul dengan saya takut air sih? Sabar belum selesai ceritanya.

Ibu saya memang sukanya berenang di pantai, setiap ke pantai pokoknya harus berenang. Ombak pantai Cipatujah termasuk yang cukup besar dan agak tidak ramah dengan perenang. Waktu itu ibu saya berenang mengajak saya ikut juga, rupanya ibu saya agak keenakan berenang tidak terasa makin ke tengah. Dan.. ibu saya baru sadar kami sudah terlalu ke tengah begitu kaki tidak bisa menginjak dasar pantai lagi dan jauh dari orang-orang di pantai.

Paniklah ibu saya dan meminta pertolongan sama orang-orang di sekitar pantai. Ributlah orang-orang pada saat itu bahwa hampir saja saya dan ibu saya menjadi anak asuhnya Nyi Roro Kidul. Hah, gak mau ah mending jadi anak asuhya David Beckam saja 😀 Biasalah orang-orang masih percaya hal-hal mistis selalu menghubungkan kecelakaan terseret ombak di pantai selatan dengan Nyi Roro Kidul. Padahal entah benar entah tidak kasihan Nyi Roro Kidul selalu disalahakan untuk semua kejadian. Entahlah apakah kejadian itu membekas menjadi trauma atau tidak di pikiran saya.

Karena saya takut air, saya tidak berani belajar berenang. Kalau ada banjir datang mungkin sayalah orang pertama yang menjadi korban haha. Efeknya anak saya yang saya paksa belajar berenang. Tujuan saya adalah kalau ada banjir anak saya bisa menyelmatkan diri sendiri (dan saya tentunya). Saya rela bengong di pinggir kolam renang nungguin anak saya belajar berenang selama 1 jam.

Saya bukan lumba-lumba

Gambar dari Google

Manusia tidak diciptakan untuk hidup di air. Berbeda dengan lumba-lumba dan ikan paus yang juga mamalia seperti manusia namun diberi bekal untuk bertahan hidup di dalam air. Lumba-lumba bisa bergerak sangat luwes di dalam air dan bisa mengurangi gesekan dengan air. Aih lumba-lumba jago fisika juga rupanya.

Lumba-lumba menggunakan sistem navigasi dengan “suara”. Mereka mengeluarkan suara yang akan dipantulkan kembali dan diolah oleh otaknya sebagai navigasi. Mereka tidak akan menabrak benda-benda di dalam laut. Lumba-lumba memiliki bentuk tubuh yang slim cocok untuk berenang. Mamalia laut memiliki kemampuan bernafas yang sangat kuat di dalam air yang memungkinkan bisa menyelam dan menangkap mangsa di laut.

Udah sih bu gak bisa berenang mah gak bisa saja, gak usah banyak alesan, banyak orang bisa berenang juga walaupun bukan lumba-lumba atau paus. Mungkin mereka penyu. 😁😁

Saya suka pergi ke pantai, saya suka ikan, suka lumba-lumba, ikan paus dan penyu. Tapi kalau harus nyebur ke air gak deh. Parno habis. Saya hanya bisa menghimbau selamatkan laut Indonesia. Ayo Bu Mentri Susi, selalu semangat menyelamatkan kekayaan laut Indonesia!

Advertisements

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s