Posted in Being a mom, Sehari-hari

Anakku sudah remaja

relation-adolescent-parent-dispute-ecoute
Gambar dari Google

Ibu-ibu seumur saya biasanya anaknya sudah menginjak usia awal remaja (adolescents). Emang ibu usianya berapa? Ih kepo deh. πŸ˜€ Menangani anak remaja gampang-gampang susah. Gampangnya ya sudah tidak perlu lagi digendong-gendong ke mana-mana, makan sendiri, sudah lebih mandiri sehingga orang tua tidak perlu repot lagi. Tetapi perubahan psikologis remaja yang berada pada masa transisi antara anak-anak dan dewasa kadang membuat orang tua agak sedikit sensi.

Permasalahan remaja

Psikologi anak remaja sangat rentan. Mereka tidak mau disebut anak-anak lagi tapi juga masih belum pantas untuk disebut dewasa. Mereka merasa tahu segala hal sehingga kadang banyak membantah orang tua. Hehe pengalaman waktu kecil agak bandel kadang melawan orang tua, maafkan aku yang dulu ibu..

Remaja lebih suka trial and error dalam melakukan segala hal. Kalau kata ibu saya mah biarin saja kalau belum merasakan sendiri belum kapok. Tapi itu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat pada saat mereka dewasa nanti. Mereka akan lebih siap menjalani jatuh bangunnya kehidupan. Jatuh dan melakukan kesalahan, lalu bangun, belajar dari kesalahan, dan memperbaikinya.

Pada saat remaja terjadi perubahan secara fisik dan psikologis. Perubahan fisik saat pubertas membuat mereka kurang nyaman. Perubahan suara, jerawat, tinggi badan, berat badan menjadi urusan penting bagi mereka. Mereka mulai membandingkan keadaan fisik mereka dengan fisik temannya. Apalagi jika sudah mulai tertarik dengan lawan jenis, keadaan fisik kurang sedikit saja bisa menjadi masalah.

Masa remaja adalah masa-masa belajar dewasa, bertanggung jawab dan lebih mandiri. Tapi mereka masih agak takut sehingga terkadang masih membutuhkan bimbingan orang tua. Namun demikian mereka cenderung lebih dekat dengan teman-temannya, malah kadang malu dekat-dekat dengan orang tuanya, takut dilihat temannya kalau dia anak mamih.

Segala hal yang dilakukan temannya dan apa yang miliki temannyaΒ  adalah hal yang penting. Masih ingat kan ada remaja yang bunuh diri karena menginginkan barang yang sama dengan temannya dan orang tuannya tidak sanggup membelikannya? Mereka lebih suka ngumpul-ngumpul nge-gang dengan teman dekatnya, tidak mau dipeluk dan dicium di depan umum lagi. Hiks hiks ini bagian yang paling sebel. Harap maklum bukan berarti mereka tidak lagi sayang kepada orang tuanya, tapi begitulah remaja.

Pendekatan kepada mereka

Penanganan anak yang sudah remaja tentu saja berbeda dengan waktu mereka anak-anak. Masalahnya banyak orang tua yang tidak siap menghadapi kenyataan kalau anaknya sudah besar, masih saja dianggap sebagai anak kecil. Betul kan? Hayo ngaku saja, tapi tidak sendirian kok, saya juga terkadang pengen anak saya kecil lagi. πŸ˜€

Kita harus lebih banyak mendengar daripada menggurui mereka. Dekati dengan lembut tetapi tentu saja pada saat dibutuhkan ketegasan orang tua. Kita bukanlah temannya, tapi kita adalah orang tua yang kewajibannya membantu mereka menjadi dewasa. Sehingga kalau merasa salah atau menginginkan barang yang belum/tidak sesuai dengan usianya kita berkewajiban mencegah dan menegurnya. Saya masih suka terheran-heran banyak orang tua yang membelikan motor untuk anak remaja mereka dengan alasan kepraktisan. Padahal ibu-bapak, itu sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Mereka belum waktunya membawa motor di jalan.

Jangan mengkritik mereka, kritikan sedikit saja bisa membuat mereka bete luar biasa. Kritikan terhadap fisik seperti: Ih kok pake baju itu sih? Ih model rambutnya kok begitu? Diet dong biar kamu gak gendut begitu. Kritikan terhadap kepribadian: kamu gitu aja gak bisa? Gitu aja gak tahu? Nilai kamu kok jelek-jelek, lihat temen-temen kamu nilainya bagus-bagus. Dan banyak lagi. Mungkin kalau dulu waktu mereka anak-anak damai-damai saja, sekarang harus lebih hat-hati.

Kita juga harus mengawasi pergaulan mereka. Mengawasi bukan berarti anak harus dipasang GPS atau CCTV, tapi lebih perduli dengan cara lembut. Setiap orang tua tahu bagaimana memperlakukan anaknya sendiri, mungkin berbeda dengan orang tua lainnya karena perbedaan karakter. Mereka tidak suka diawasi atau diatur karena merasa sudah hebat, merasa bukan lagi anak-anak. Padahal mereka tidak tahu banyak predator di luar sana. Pengedar narkoba, rokok, pedofilia, pornografi dan pergaulan bebas banyak mengintai mereka, apalagi informasi dari internet sudah bisa didapatkan di mana-mana. Pendidikan yang baik, nilai-nilai kebaikan, kenjujuran dan agama sangat penting ditanamkan.

Saya hanya sharing bukan berniat menggurui, karena saya juga bukan super mom yang segalanya tahu, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat. πŸ™‚ Happy long weekend mulai besok, yang liburan selamat berlibur ya…

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Anakku sudah remaja

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s