Posted in Being a mom, Sehari-hari

Kecanduan games

150553_games.jpg
Biasa.. gambar nemu di Google

Kecanduan games hanya ada pada zaman sekarang ini, zaman berbagai macam gadget dijual di mana-mana. Zaman dulu mana ada games beginian, zaman saya dulu mainnya ke sawah, kebon atau kolam ikan hehe. Kecanduan games ini bukan hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa. Saya memiliki beberapa mahasiswa yang kecanduan games dan akhirnya kuliahnya DO (Drop Out).

Saya memiliki cerita salah satu mahasiswa saya yang DO karena kecanduan games online. Sebelumnya saya hanya mendengar cerita saja bahwa ada mahasiswa yang jarang kuliah karena mangkalnya bukan di kampus atau perpustakaan tapi di warnet. Sampai pada saat detik-detik mahasiswa itu harus ada keputusan DO saya baru tahu kasus mahasiswa tersebut.

Datanglah mahasiswa tersebut dengan bapaknya, bapaknya dengan berpakaian baju polisi. Pertama bapaknya sepertinya mau menekan saya supaya anaknya tidak jadi di-DO. Bapaknya masih belum percaya katanya anaknya setiap hari masuk kuliah dan tidak pernah bolos, dia pikir tidak mungkin anaknya harus di-DO. Akhirnya saya tanya mahasiswa tersebut berapa kali masuk kuliah di kelas saya, jawabnya tidak pernah. Berapa kali masuk kuliah di mata kuliah lainnya, jawabnya tidak pernah. Fakta jelas, transkrip jelas semua sudah terlambat.

Anehnya mahasiswa tersebut terlihat lega setelah saya membuka “rahasia” dia selama ini. Sepertinya dia sangat takut dengan bapaknya yang polisi itu kalau dia yang harus berterus terang tentang kegagalan kuliahnya. Akhirnya saya menceramahi mahasiswa dan bapaknya sekalian haha.

Kecanduan Games pada Anak

Orang dewasa seperti mahasiswa saya saja tidak berdaya menghadapi games online apalagi anak-anak yang kontrol terhadap diri sendirinya belum matang. Sehingga orang tualah yang harus menjaga anak-anak dari kecanduan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pencegahan sedini mungkin.

Main games sebagai alternatif bermain anak kalau masih wajar masih normal. Tetapi kalau sudah mengabaikan pergaulan, tidak memperdulikan pelajarannya, main games dengan waktu berjam-jam tentu hal tersebut akan merusak pribadi anak sendiri.

Anak saya sangat suka bermain games, games online, Play Station (PS) atau games di PC. Itu karena pergaulan dia yang memang teman-temannya suka juga bermain games. Tetapi saya berusaha sekuat tenaga supaya anak saya tidak bermain games teralalu banyak.

  1. Batasi waktu bermain games. Saya menetapkan hanya boleh bermain games pada saat weekend. Di luar itu no way.. Pada saat weekend pun harus dibatasi berapa jam total dia boleh bermain dalam satu hari.
  2. Tidak semua games yang dia inginkan diberikan. Tidak semua games bisa dimainkan oleh anak-anak, banyak yang khusus orang dewasa. Banyak games yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Untunglah games-games PS itu harganyaΒ  mahal sehingga kita bisa tahu games apa yang dia inginkan dan karena harganya mahal tentu tidak semua bisa dia dapatkan. Yang berbahaya tentu games-games online yang kita sendiri tidak tahu games jenis apa yang dimainkan anak-anak kita. Jadi selalu pantau dan usahakan orang tua juga tidak gaptek. πŸ™‚
  3. Buat perjanjian dengan anak. Games membuat lupa segalanya, lupa makan, belajar, bahkan tidur. Saya selalu membuat perjanjian kalau dia mau bermain games pekerjaan lain harus tepat waktu dikerjakan, kalau tidak saya kurangi waktu main gamesnya. πŸ˜€
  4. Beri alternatif kegiatan lain kepada anak. Kalau tidak memiliki kegiatan kan anak pasti bosen. Nah tugas orang tua untuk memberikan alternatif, mungkin anak diajak masak bareng, berkebun, memancing, olah raga dll. Selain anak tidak bosen hal itu juga bisa menjadi jalan menjalin kedekatan antara anak dan orang tua.

Sampai saat ini masih berhasil dan prestasi anak saya di sekolah tidak terganggu. Mudah-mudahan saya kuat sebagai orang tua menghadapi serangan gadget yang bertubi-tubi. Mungkin ada yang bisa membantu saya memberiakn tips lain nih untuk menangkal serangan games. πŸ™‚

Advertisements

20 thoughts on “Kecanduan games

  1. Wah Bunda Yanti…

    Aku nggak bisa ngasih saran sebagai orangtua yang mengontrol anaknya untuk bermain games, tapi aku sebaliknya bisa sharing sebagai gamers Bunda.

    Ayah – Ibu saya bukan tergolong ortu yang strict, tapi mereka tetep care sama saya. Kurang lebih 4 tips tadi juga telah dilakukan orangtua saya. Tapi mereka nggak pernah sekalipun menganggap bermain games itu hal yang “amat pantang” bagi saya. Bahkan mereka, terutama Ayah saya sesekali ikutan bermain dan menanyakan perihal apa yang sama mainkan.

    Ketika masih kecil mungkin saya memang cenderung “lebih” dibatasi, dibandingkan ketika menginjak remaja, dimana mereka mulai menawarkan saya kebebasan. Saya boleh bermain dan silahkan saja, asalkan mampu mengatur hal lainnya. Dalam hal ini sekolah dll.. , dan alhamdulillah saya belajar banyak dari tanggung jawab yang mereka berikan hehe

    Sekedar sharing Bun, bahkan ortu saya pun juga kaget, ketika saya secara diam – diam memberikan hadiah kepada ortu, ataupun membeli barang yang cukup “wah” dari hasil saya memenangi turnamen beberapa game.

    Orangtua saya selalu support dan sayang terhadap masa depan saya sama seperti Bunda dan anak bunda, mereka mengizinkan saya bermain dalam waktunya, dan mendewasa dengan tanggung jawabnya πŸ˜€

    Happy Parenting Bundaaa!

    Liked by 3 people

  2. Aku salut nih bunda Yanti, udah aware banget.

    Kadang aku kalau lagi ikut mama bertamu ke rumah teman beliau, aku khawatir dari kecil udah dikasii PS anaknya, soalnya itu candu banget.

    Saya sendiri suka ngegame, PS, online, PC pun menulis postingan ortu harus aware sama anak2 yang main game.

    Saya juga setuju dgn kak Toro, dan biasanya kalau terlalu strict nanti malah diam-diam, hehe. Yang penting udah tau gimana rasanya main game, saya sendiri dewasa ini udah agak kurang minat dan menghindari beli PC gede supaya gak instal game.

    Untuk sekedar biar lebih aware lagi, hindari untuk memberikan TV dikamar, Bunda update soal rental disekitar lingkungan main, teman-temannya yang punya PS, kaset-kaset game juga selalu di check krn ga jarang mengandung konten dewasa.

    Semangat Bundaa Yanti 🌻

    Liked by 3 people

    1. Masalahnya selalu ada games baru yang bikin anak saya penasaran. Jadi rasa penasarannya harus diobati dulu tapi harus dibatasi. Yaa zaman sekarang banyak tantangan untuk menjadi seorang orang tua. Terima kasih komentarnya. πŸ™‚

      Liked by 1 person

  3. Hiks, itu juga yang jadi concern aku mba Yanti.. Di rumah, sudah pakai kesepakatan.. liburan di rumah eyang dengan semua sepupunya main game di gadget mau gak mau jadi ikutan. Huhuhu.. Dan kata kuncinya adalah, gimana caranya kita ortu menawarkan kegiatan lain yang lebih menarik dibanding main game..

    Liked by 1 person

    1. Yaa memang anak2 sekarang kalau ngumpul asiknya main games, kurang terhubung satu sama lain. Palingan kalau dilarang anaknya akan bilang “ini kan libur sih bu..” Siapa2 saja dengan jawabannya hihi

      Like

  4. Dulu waktu kuliah semester 1-3 hobi banget main game, terutama dota. Baru setelah semester 4 tobat, bapa sakit & harus cari biaya buat kuliah sendiri. Saya rasa main game menghilangkan kejenuhan, asalkan tau diri saja sama durasi mainnya.

    Liked by 2 people

  5. Aku sih paling suka mainin candy crush mpe kadang keasikan sendiri&suami manyun gara-gara dicuekin hahahah.. emang kadang suka lupa diri klo udah main games, tapi untung ga sampe di DO juga jadi istri πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    Liked by 1 person

    1. Main candy crash udah segitunya. Anak saya main games yg susah-susah kadang lupa segalanya kalau kita orang tuanya tidak membatasi. Jangan tanya games apa yang pernah dia mainin, tanya games apa yang belum dia mainin dia akan menjawab “kayaknya semua sudah pernah” haha parah..

      Like

      1. Mungkin juga, anak saya suka tanya saya gimana caranya bikin games, susah gak katanya. Mudah2an ada gunanya heheh minimal dia jago bahasa Inggris dari games. πŸ˜€ πŸ˜€

        Liked by 1 person

  6. Target pebisnis game lebih ke anak laki-laki sih, mba..kalau dari awal nggak dikenalin sama sekali bagus, tapi energi si laki ini harus dialihkan ke kompetisi lain yg lebih beda, kalau perempuan biasanya sih ga terlalu sefokus anak laki, tetap saja dialihkan juga…bila sudah terlanjur biasanya dikasih pengertian juga dan batasan waktu. Setelah gamenya di screening. Dan big no untuk game online atau ke warnet. Banyak unsur-unsur krg bagus di game utk laki2 kalau benar-benar ditelaah seperti game yg melibatkan unsur membunuh dan menembak, GTA, terakhir ini selain mengandung kekerasan jg unsur seks. Untuk game yg anak perempuan suka seperti the Sims juga bnyk selipan seks bebas dan sesama jenis. Paling aman memang nggak main sama sekali tapi gimana ngawasinnya….ya, kembali lagi kepada org tua. Anak yg kecanduan biasanya karena dia melarikan diri dari suatu permasalahan dan kurang perhatian…pencandu butuh diselamatkan krn dia sendiri nggak bisa nyetop. Mgk itu juga kali ya perasaan murid mba… moga-moga orang tuanya bisa menyadari apa permasalahan anaknya dalam keluarga…

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih komentarnya πŸ™‚ Pergaulan dengan teman-temannya apalagi remaja memang agak sulit untuk dicegah, karena memang masa remaja masa ingin bergaul dengan teman-temannya. Jadi memang saya perbolehkan main di rumah bukan di kamar, apalagi di warnet. Games online palingan games get rich hehe. Selebihnya hanya boleh main di weekend dengan batasan waktu dan harus bertanggung jawab dengan kegiatan lain. Sekali lagi terima kasih komentarnya. πŸ™‚

      Like

Say something and leave your trace here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s